Iman vs Kesuksesan

Pada tulisan kali ini, penulis mencoba mengangkat topik tentang hubungan iman dengan kesuksesan seseorang. Ada yang berkata ada hubungannya, ada pendapat yang menganggap tidak ada hubungannya, tergantung pandangan masing-masing pribadi. Bagaimana menurut Anda? Apakah ada hubungannya atau tidak, diharapkan pembaca dapat menyimpulkan sendiri dari pemaparan beberapa pandangan di bawah ini.

Iman adalah sebuah kepercayaan (percaya penuh) kepada Allah. Iman berbicara tentang ketetapan/keteguhan hati/ketergantungan seseorang kepada Allah. Keadaan bergantung kepada Allah ini, akan membuat batin seseorang tenang dalam situasi apapun yang diijinkan terjadi dalam hidupnya. Seseorang yang beriman kepada Allah akan lebih mudah memahami situasi-situasi sulit dalam hidupnya sebagai sebuah kesempatan untuk dapat memuliakan Allah, karena ia percaya bahwa Allah selalu mempunyai rencana yang terbaik bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Seseorang yang beriman juga dapat melihat sebuah kesuksesan bukanlah satu-satunya tujuan dalam hidup ini, namun hanyalah sebuah kesempatan untuk dapat memuliakan Allah.

Bagaimana tentang kesuksesan? Kesuksesan bagi setiap orang bisa berbeda, namun sebagian besar orang membayangkan kesuksesan adalah hal yang dicapai seseorang dalam hubungannya dengan hal-hal yang bersifat lahiriah (posisi/jabatan) atau materi (harta benda). Pada umumnya pembicaraan tentang kesuksesan seseorang selalu dihubungkan dengan bisnis yang berhasil, karir yang melejit, rumah cantik di kawasan elite, mobil mewah dan sebagainya. Dalam bahasan ini penulis tidak akan membahas tentang ukuran kesuksesan, namun lebih kepada cara pandang seseorang terhadap keberhasilan. Bagaimana seseorang memandang sebuah kesuksesan. Mari kita lihat lebih lanjut.

Menurut KBBI arti sukses adalah berhasil, beruntung, sehingga kesuksesan dapat diartikan keberhasilan, keberuntungan. Berpijak dari arti kamus di atas, kesuksesan atau keberhasilan adalah sesuatu (hasil) yang dicapai seseorang dalam apa yang dikerjakan atau diusahakan.

Bagi beberapa orang hasil/pencapaian terhadap sesuatu tersebut murni karena usaha mereka, karena tangan dan kekuatan merekalah yang menjadikan hasil itu tercapai. Tidak ada hubungannya dengan iman, tidak ada ketergantungannya dengan Allah. Orang yang berpandangan seperti ini (sebut saja golongan pertama) menempatkan iman dan keberhasilan pada bidang/jalur yang berbeda dimana iman adalah hal rohani yang tidak ada hubungannya dengan hal jasmani.

Ada golongan yang lain yang memandang sukses tidak lepas dari bagaimana mereka mempercayai Allah (sebut saja golongan kedua). Mereka memandang sukses sebagai sebuah perkenanan Allah terhadap hidupnya. Harta kekayaan yang dimiliki, posisi tinggi yang dicapai hanyalah ‘kepercayaan’ yang diberikan Allah kepadanya, bukan semata karena kepandaiannya, bukan semata karena kehebatannya mengusahakan sesuatu, tetapi hanya karena Allah campur tangan di dalam apa yg dikerjakannya dan membuatnya berhasil. Golongan orang seperti ini, menempatkan iman dan keberhasilan pada bidang/jalur yang seirama, bahwa tidak ada kesuksesan yang berdiri sendiri, dimana iman dan kesuksesan adalah dua hal yang saling berhubungan, saling berkaitan, tidak bisa dilepaskan begitu saja. Mereka memandang bukan karena kekuatan tangan merekalah yang membuat keberhasilan tetapi campur tangan Allah dalam usaha/perbuatan merekalah yang membuat berhasil. Kesuksesan ada ketergantungannya dengan Allah. Pandangan ini jelas berbeda dengan pandangan golongan pertama.

Nah, apa yang dapat disimpulkan dari pemaparan diatas?  Penulis berharap pembaca dapat memahami tentang dua pandangan di atas tentang hubungan iman dan kesuksesan sehingga pembaca dapat melihat dirinya pada golongan mana pandangannya berdiri, apakah pada golongan pertama yang menganggap kesuksesan adalah semata karena perbuatan/usaha murni seseorang, atau pada golongan yang kedua yang memandang kesuksesan sebagai campur tangan Allah yang membuat berhasil usaha/perbuatannya.

Demikianlah secara ringkas bahasan Iman vs Kesuksesan, penulis berharap tulisan ini dapat berguna bagi kita semua, amin…. 🙂

 

 

Ukuran Hidup dalam Penilaian Allah

Ukuran hidup seseorang berbeda satu terhadap yang lain. Ukuran hidup seseorang dipengaruhi oleh banyak nilai yang berkembang dalam kehidupan masing-masing pribadi. Ada yang mengukur hidupnya dengan seberapa banyak target yang sudah tercapai sepanjang tahun-tahun yang sudah dilalui, ada yang mengukur hidupnya dari seberapa banyak harta kekayaan yang sudah dikumpulkan, dan masih banyak lagi ukuran-ukuran yang lain.

Sedikit sekali seseorang menyadari bahwa setiap tindakan, sekecil apapun adalah ukuran hidup yang sesungguhnya. Setiap pemikiran, perkataan, tindakan, sekecil apapun mempunyai dampak kekekalan. Tidak ada sedikit pun yang akan terlewatkan dalam perhatian Allah. Itu sebabnya perlu bagi kita untuk mulai menyadari dan memikirkan nilai apa yang kita bawa ke dalam kekekalan, nilai yang baik atau yang tidak baik. Ibarat sebuah barang, kualitasnya akan teruji oleh api, apakah barang tersebut terbuat dari bahan yang mudah terbakar seperti kertas, kayu, batu, atau terbuat dari bahan yang lebih baik kualitasnya seperti logam mulia, emas yang adalah bahan yang tahan terhadap api. Ibarat seorang pelari marathon, kemenangannya tidak ditentukan oleh 100 meter pertama namun bagaimana dia dapat mencapai garis akhir dan tetap bisa berdiri tegak.

Mari kita mulai melihat lebih jauh tentang ukuran hidup yang bagaimana yang diperhatikan Allah. Allah akan memberikan hadiah/reward dalam hal-hal yang kita lakukan di dunia ini :

1. Seluruh hidup kita (bagaimana kita menggunakan seluruh hidup kita untuk hal-hal yang memuliakan Allah)

2. Perkataan kita (berpikir sebelum berbicara, perkataan yang membangun diperhatikan oleh Allah)

3. Pikiran kita (mengisi pikiran kita dengan hal yang baik, yang kudus, yang mulia)

4. Rahasia kita ( kehidupan yang transparan, tidak merahasiakan sesuatu yang jahat)

5. Motivasi kita (Motivasi yang tulus murni, diperhitungkan oleh Allah)

6. Air mata kita ( Saat kita menangisi orang-orang yang tersesat jalannya, saat kita sengsara tetapi tetap taat kepada Allah)

7. Doa-doa kita (Waktu-waktu yang kita gunakan untuk mendoakan orang lain yang dalam kesusahan, doa-doa kita untuk keluarga dan orang lain)

8. Pertolongan kita kepada orang lain (saat menolong orang lain tanpa pamrih)

9. Dukungan kita kepada orang yang membutuhkan (saat kita memberikan dukungan kepada orang yang kekurangan, anak-anak yatim, dsb)

10. Ketaatan/tindakan kasih kita kepada Allah (Ketaatan kita melakukan FirmanNya adalah bentuk kasih kita kepada Allah)

Ini hanyalah sedikit contoh, tentunya akan sangat banyak contoh-contoh yang lain. Namun paling tidak kita mulai berpikir untuk bertindak hati-hati dalam hidup kita. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai hal yang baik, tidak ada kata terlambat untuk berubah. Mari kita bijak dalam menggunakan setiap kesempatan yang Allah berikan dalam hidup kita dengan melakukan hal-hal yang akan mempunyai nilai yang kekal,  amin.